untaPilihannya untuk meninggalkan kerajaan bisnisnya di Mekah sudah bulat. Hijrahnya bersama Rasulullah ke Madinah membawa keyakinan mendalam. Bahwa seluruh hartanya hanyalah milik Allah. Setibanya Abdurrahman bin Auf di Madinah, dia langsung mulai menjalankan bisnisnya (ACTION). Inilah pelajaran pertama yang bisa kita ambil dari seorang Abdurrahman. Seorang pelarian seperti Abdurrahman tentu tidak memiliki modal kuat seperti yang dimiliki para pengusaha Madinah, seperti kaum Yahudi yang tengah menguasai pasar Madinah pada saat itu. Walaupun Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ seorang pengusaha terkemuka Madinah oleh Nabi saw, namun beliau tidak memanfaatkan kekayaan saudaranya itu. Dari Anas ra, telah berkata:…. “dan berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya… .!” Jawab Abdurrahman bin Auf: “Semoga Allah memberkati anda, isteri dan harta anda!, tapi tunjukkan letaknya pasar agar aku dapat berbisnis…..!” Seperti anak panah yang baru saja lepas dari busurnya, perjalanan bisnis Abdurrahman melesat cepat. Beliau tidak hanya berhasil membangun kembali kerajaan bisnisnya, tapi juga menggusur para pengusaha Yahudi untuk angkat kaki dari Madinah karena bangkrut. Pelajaran kedua dari Abdurrahman adalah keikhlasannya dalam memberi (GIVING). Apakah kemudian dengan menyedekahkan hartanya di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menjadi miskin? Ternyata tidak, Abdurrahman tidak pernah jatuh miskin dan papa, bahkan sejarah mencatatnya sebagai salahsatu konglomerat terbesar di dunia. Mujahid enterpreneur seperti Abdurrahman sangat yakin dengan janji Allah dalam al-Qur’an: “Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (al-Baqarah : 261) Pada suatu hari, bumi kota Madinah seolah-olah bergetar, terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Ummul Mukminin Aisyah bertanya, “Suara apakah yang hiruk pikuk. Apa yang telah terjadi di kota Madinah?”. Orang-orang menjawab, “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya, dengan iring-iringan tujuh ratus unta bermuatan penuh membawa sandang pangan dan keperluan-keperluan penduduk.” Ummul Mukminin berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya bagi Abdurrahman bin Auf dengan baktinya di dunia serta pahala yang besar di Akhirat.” Selanjutnya, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan merangkak.” Sebelum iring-iringan unta berhenti dan tali temali perniagaan belum dilepaskan, berita dari Ummul Mukminin itu telah sampai kepadanya. Secepat kilat, Abdurrahman bin Auf datang menemui Aisyah dan berkata, “Anda telah mengingatkan aku dengan sebuah hadits yang tidak pernah kulupakan.” Dia kemudian berkata, “Kini, saksikanlah bahwa kafilah ini dengan seluruh muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah Azza wa Jalla.” Maka, dibagikanlah muatan tujuh ratus unta itu kepada seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai suatu amal yang mulia di jalan Allah.” Bayangkan, unta pada saat itu adalah kendaraan paling elit yang kira-kira saat ini setara dengan BMW atau Ferrari..!! Keyakinannya dalam berniaga tak lepas dari kesungguhannya dalam berjihad. Untuk urusan jihad bil amwal (jihad dengan harta), mungkin sulit dicari tandingannya. Dan semua itu adalah buah dari do’a-do’anya (PRAY) yang senantiasa terpanjat untuk menjadi hambaNya yang memiliki kontribusi untuk perjuangan agamanya. Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pada pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga dia berkata: ”Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak…..!”. Jangan kira perkataannya itu adalah sebuah kesombongan.. Justru itu adalah ungkapan lain dari mimpi dan do’anya. Do’a yang kemudian mewujud dalam diri seorang Abdurrahman bin ‘Auf sebagai enterpreneur muslim yang paling disegani dizamannya.. Let’s action-giving-praying oriented like Abdurrahman bin ‘Auf.. – andhee – http://andyrachmat.blogspot.com