Bu Isse sedang menjelaskan target-target bisnisnya dalam Tabel Indikator Bisnis

Bu Isse sedang menjelaskan target-target bisnisnya dalam Tabel Indikator Bisnis

Tadi malam 1 April 2009, KMM2 mengadakan pertemuan yang pertama setelah workbook disetujui & disahkan dalam Raker MM Jaksel pada 14 April lalu. Peserta yang hadir terdiri dari P Asep Gunawan (tuna rumah), Bu Siska, Bu Sri Kurniatun, P Dudun Parwanto, P Junaedi (member KMM4), P Ali Auzia R, P Prihatmojo Utomo, P Novi Darmawan dan Bu Isse (3 nama terakhir adalah member baru). Dan terakhir saya sendiri juga hadir. Kegiatan pertama langsung membahas dan mempertajam pengisian TABEL INDIKATOR BISNIS pada workbook. Sesi awal diisi dengan logika pengisian Tabel Indikator Bisnis, bagaimana cara berfikirnya, setiap pengisian target apa konsekwensinya bagi parameter yang lain, apakah setiap target masuk akal dan bisa dicapai dst dst. Setiap member maju satu persatu ke depan untuk mengisi parameter dan target bisnis mereka untuk tahun 2009. Pada awalnya semua member mengalami kesulitan pada saat mendengarkan penjelasan. Namun saat satu persatu member diminta maju untuk mengisi target-target mereka masing-masing, ternyata secara tidak sadar semuanya mengalir begitu saja. Karena memang yang paling tahu bisnis member adalah member sendiri. Yang perlu sedikit “fine tuning” adalah membuat korelasi antara target yang satu dengan target yang lain agar semuanya menjadi masuk akal dan tidak menjadi pulau-pulau yang tidak saling berhubungan. Otak kita tidak bisa menterjemahkan maunya kita apabila program/skenario/target yang kita buat tidak logis dan tidak masuk akal. Makanya sering member bingung dengan bisnis mereka, sepertinya sudah melakukan segala sesuatu tetapi rasanya “Going Nowhere“. 010420092233Ya, karena bisnisnya tidak disusun secara logis sehingga otak kita menjadi bingung menterjemahkannya menjadi standar urutan-urutan kerja. Akhirnya kita jadi bingung dengan bisnis kita sendiri. Satu hal yang dirasakan tadi malam adalah, kebiasaan untuk menuliskan apa yang akan/sudah kita buat adalah hal yang paling berat sekaligus kunci sukses pengisian workbook ini. Budaya bangsa Indonesia yang lebih kuat budaya lisannya dibandingkan budaya menulis ternyata membawa efek yang luarbiasa terhadap bisnis kita. Kebiasaan dan keengganan menulis telah membawa kita pada kebingungan pada saat mengisi workbook, karena memang kita tidak terbiasa menuliskan apa2 yang ada di pikiran kita. Biasanya setelah kita pikirkan lalu kita bicarakan dan STOP sampai di sana, tidak dilanjutkan dengan DITULISKAN. Sehingga kadang-kadang informasi yang kita keluarkan lewat lisan ini malah bikin bingung otak kita, sehingga banyak target-target kita tidak tercapai dan tidak termanage dengan baik. Jadi, workbook ini adalah media terbaik untuk member KMM Jaksel untuk improving your business and improving youself. Let’s put our effort to fill in our workbook, dan rasakan deh nanti akhir tahun 2009. Korban pertama dari workbook sudah sama-sama kita ketahui, P Jaya dengan toko offline barunya, adalah karena beliau memaksakan diri untuk menulis dream dan target-targetnya di Workbook. Hasilnya, tidak sampai 2 minggu beliau sudah punya toko offline yang pertama. Yang membedakan orang yang sukses dengan yang tidak sukses salah satunya adalah CARA mereka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Yaitu membuat segala sesuatu terukur dan bisa dikerjakan. Selamat mengisi Workbook MM Jaksel